Minggu, 24 Januari 2010

Cara memilih Kamera Digital berkualitas







Ini saya sarikan dari berbagai sumber di internet untuk Anda yang sedang mencari kamera digital atau para pe-hobby fotografi pemula. Khusus untuk kamera digital, biasanya kita terpesona dengan merk, besar megapixel dan harga. Padahal ketiganya adalah bukan ukuran mutlak sebuah kamera digital berkualitas atau tidak. Menurut saya cara memilih kamera digital berkualitas adalah sebagai berikut.

1. Menentukan apa yang Anda perlukan:

Sebuah kesalahan besar yang banyak orang menghabiskan banyak waktu dalam kamera digital adalah untuk membeli sesuatu diluar yang mereka butuhkan biasanya orang tidak memperdulikan apa sebenarnya kebutuhan dan kemampuan dia.

2. Jumlah Megapixels bukanlah segalanya.

Fitur paling dibahas dan digunakan untuk menjual kamera digital dan jumlah megapixels.
Kita tahu harga kamera DSLR 6,1 mp adalah 4 kali harga kamera digital biasa yang 10 mp. Padahal kita sering mendengar orang bertanya : berapa megapixel kamera kamu? Atau cuman segitu pixel kamera-nya? Pada kenyataannya makin banyak pixel, juga bisa merusak hasil gambar. Memiliki kamera hanya dua pixel sudah cukup untuk dicetak dalam foto standar 6×4 inci secara sempurna. Ini sama dengan resolusi Full HD TV. Lima hingga enam megapixel lebih dari cukup untuk segala kebutuhan. Bahkan untuk pencetakan sebesar poster tetap kelihatan bagus di resolusi ini. Jika Anda mencetak foto dalam ukuran normal (10x15, 14X21) dari kamera 4 megapixels sudah ebih dari cukup.

3. Pertimbangkan aksesoris "tambahan"

Ingat bahwa tergantung pada bagaimana Anda akan menggunakan kamera digital yang Anda miliki / harus membeli beberapa tambahan seperti:


* Tas, ransel
* Kartu memori
* Baterai dan / atau baterai yang dapat diisi buku
* Lensa (jika Anda membeli DSLR)
* Tripod atau monopod

4. Kamera DSLR atau kamera digital biasa?

Kamera tipe DSLR merupakan kamera digital yang mempunyai prinsip kerja, sama dengan kamera SLR yang masih menggunakan film, yaitu dengan menggunakan sistem pantulan dari cermin. Perbedaan yang mendasar antara DSLR dan kamera digital biasa atau digicams terletak pada sensor yang meneruskan cahaya yang masuk melalui lensa

5. Ingat: Apa yang dianggap zoom optik.

Tidak semua "zooms" adalah sama. Bila Anda mencari kamera digital, anda akan mendengar dua hal: optical zoom dan digital zoom. Saya menyarankan Anda mempertimbangkan hanya zoom optik untuk mengambil keputusan untuk membeli. Digital zoom, yang kasar, hanya akan meningkatkan pixel dari gambar Anda dan meninggalkan lebih "pixelnoize" atau gangguan pada kualitas gambar.


6. Membaca artikel dan ulasan pada kamera

Sebelum membeli kamera digital, waktu untuk melakukan pencarian. Jangan hanya percaya pada penjual, mengingat banyak orang yang dibayar untuk beberapa merk desain kamera.
Membaca artikel, jurnal khusus fotografi, khusus situs dan forum, karena ada banyak tersebar di berbagai media informasi. Dengan demikian, anda akan mengerti benar bagaimana cara memilih kamera digital yang berkualitas menurut Anda.


7. Lakukan test drive.

Artinya anda harus yakin betul kamera digital yang akan anda beli adalah pas dengan pengetahuan anda serta nyaman sesuai skill anda. Percuma rasanya anda membeli kamera digital secanggih apapun, jika anda tidak nyaman dan kurang bisa menggunakannya. Yakinkan anda telah benar-benar memilih kamera digital pilihan Anda.

8. Lakukan negosiasi, minta diskon,dan beri sedikit “ancaman” untuk tidak membeli.

Kadang-kadang ini perlu dilakukan agar penjual benar-benar membeberkan semua rahasia dari kamera digital tersebut. Jika kita minta diskon, biasanya diberi, cuman sang penjual memberikan catatan, kalo untuk harga segitu, dapatnya harusnya yang kamera ini pak..artinya, dia akan membandingkan dengan produk lainnya. Kalau kita ancam tidak membeli, trik ini akan membuka peluang sang penjual untuk mempertimbangkan kembali harga tawarnya. Atau memberi fasilitas lainnya. Intinya, kita harus dapatkan yang terbaik, dan sesuai antara harga dan barang yang kita beli.

Begitu kira-kira cara memilih kamera berkualitas, semoga bermanfaat ya?....

Konflik Para Remaja ...Sampai Sekarang!!

Penyebaran model pakaian yang tidak sopan, serta paras yang mencolok, pemutaran film-film amoral melalui chanel-chanel tv dan internet, serta penyebaran kaset-kaset dan cd-cd hiburan yang tidak mendidik. Pencetakan buku-buku, majalah, dan novel yang bertentangan dengan etika dan membakar nafsu seks para remaja. Khususnya remaja yang sedang mengalami usia sensitif yaitu masa puber di mana mereka sangat mudah terpengaruh dan banyak lagi beragam fenomena penyimpangan sosial lainnya. Hal yang demikian itu akan memunculkan pelbagai pengaruh dan akibat seperti:

1. Ketidakstabilan rumah tangga.
Antara suami istri yang seharusnya mereka harus saling mempercayai, mereka tidak lagi memiliki kepercayaan dengan pasangannya. Ketika kepercayaan di antara mereka sudah tidak ada lagi maka keakraban dan kehangatan pun tidak akan terlihat lagi.

2. Kejahatan seksual.
Tentu kita semua menyaksikan pelbagai fenomena yang diakibatkan oleh penyimpangan sosial, di antaranya adalah munculnya pelbagai kebejatan seksual yang terjadi di masyarakat kita. Kiranya, saya tidak perlu lagi memberikan contohnya.

3. Kesenjangan
Kesenjangan sosial yang ada dalam kehidupan masyarakat di mana sebagian kelompok hidup dalam kemewahan dan kelompok lainnya dalam kekurangan dan kemiskinan, dan yang kaya pun tidak memikirkan mereka yang papa. Kesenjangan sosial semacam ini mengakibatkan munculnya rasa cemburu di kalangan kaum miskin terhadap orang-orang kaya yang pada akhirnya timbullah pelampiasan rasa dendam mereka untuk berani mencuri dan membunuh sekalipun.

4. Kebejatan moral.
Yang patut disayangkan adalah apabila para remaja sudah terseret pada kebejatan moral dan tidak mampu mengendalikan dirinya. Jika seseorang sudah terseret pada kebejatan moral dan tidak mampu mengendalikan dirinya maka ia akan kehilangan nilai-nilai spiritual dan religius. .

5. Perusakan keyakinan.
Bahwa perilaku manusia memiliki pengaruh timbal balik terhadap keyakinannya yakni sebagaimana yang rusak ia akan menghasilkan perilaku yang rusak, perilaku yang buruk juga akan merusak keyakinan manusia.

6. Tidak kenal diri dan ikut-ikutan orang lain.
Manusia-manusia yang tidak memiliki keimanan yang kuat ia tidak akan mampu membentengi dirinya di hadapan pelbagai macam godaan duniawi. Ia akan menerima segala apa yang ditawarkan, khususnya generasi muda dan para remaja, karena mereka sedang dalam usia yang betul-betul sensitif dan lebih mudah dipengaruhi, yang akibatnya akan menghilangkan jati diri mereka sehingga mudah terbujuk dan terpengaruh pihak lain. Mereka bagaikan bangkai yang mengikuti arus sungai.

Tips Fotografi : Cara Pegang Kamera

Aku yakin kamu semua yg pernah megang kamera digital pasti pernah ngedel gambar jelek gara2 goyang. Biasanya ini terjadi gara2 ketika tombol shutter ditekan, kamera nggak pada kondisi yg cukup stabil di tangan fotografernya. Jadi, adalah hal fundamental untuk ngerti dulu caranya megang kamera secara baik dan benar.
Apalagi kalo pas moto2 dalam situasi gelap, minim cahaya. Yg pada kondisi demikian diafragma terbuka lebih lama, untuk nangkep cahaya lebih banyak. Lalu gimana caranya megang kamera pd situasi demikian? Tips paling maut adalah…

Pakai tripod
Sesungguhnya tripod memanglah solusi paling sip untuk ngatasi gambar goyang. Apalagi dicombo sama timer ato remote trigger (kalo ada). Masalahnya, tripod nggak selalu available ketika dibutuhkan. Nah, ketika tripod nggak ada, gimana caranya megang kamera yg oke?
Kalo dipikir2 sih sebenernya nggak ada cara yg benar ato salah. Karena ini bergantung jenis kamera yg dipake, dan masih bisa bervariasi lagi berdasarkan preferences masing2 fotografer. Beberapa teknik umum yg biasa dipake:

1. Pegang kamera dg dua tangan. Hindari megang kamera dg satu tangan. Trus, sebisa mungkin dekatkan kamera dg badan. Karena pegangan dua tangan lebih stabil daripada satu. Dan semakin jauh tangan terulur, semakin besar juga peluang untuk swing. Ini terutama buat yg megang kamera2 enteng kelas poket ato henfon. Kamera dslr secara natural lebih nyaman dipegang dg dua tangan dan viewfinder didekatkan pd mata.

2. Tempelkan tangan kiri ke dada/perut atau samping badan. Pusatkan beban kamera pd tangan kiri. Sehingga tangan kanan sbg kontrol dan penyeimbang aja. Dari pengalaman sih yg gini ini lumayan banyak mbantu kamera (poket) supaya lebih stabil.

3. Cari obyek yg cukup solid buat bersandar. Bisa tembok, ato pohon. Ato kalo nggak ada, coba jongkok, ato berlutut. Tapi kalo harus berdiri dan nggak ada sandaran, coba buka kaki agak lebar aja supaya lebih stabil. Beruntungnya kamu2 yg pernah belajar ilmu bela diri, urusan kuda kuda gini nggak masalah.

4. Atur nafas yg enak, supaya tenang ketika mencet tombol shutter. Aturan nafas yg enak (imho): tarik nafas penuh, keluarkan pelan2 sampai setengah volume, jepret, baru keluarkan sampek abis. Ulangi.

5. Jangan kasar mencet tombol shutter. Squeeze secara lembut.

6. Dan ya tentu saja masing2 orang akan nemu tekniknya sendiri gimana cara dia megang kameranya secara nyaman. Gimana dg kamu? Kalo kamu mau ikut berbagi tips ato pengalaman, mari monggo ..........

Mbobol ATM?.......

"Hendaknya peristiwa yang menimbulkan kerugian akibat aksi pembobolan Atm di sejumlah bank saat ini, tidak mengurangi kepercayaan masyarakat menitipkan uangnya di bank. Tapi, pihak bank perlu mengkaji faktor terjadi raibnya dana nasabah tersebut," Pentingnya melihat dan dikaji faktor pemicu raibnya dana nasabah, supaya dalam penyelesaiannya sama-sama menyenangkan. Justru itu, ke depan pihak bank harus memikirkan dan menciptakan semua alat ATM anti skimmer sehingga bisa menekan aksi kejahatan. Selain itu, upaya pengecekan dan pengawasan alat ATM harus lebih dioptimalkan pihak bank, sehingga tidak menimbulkan kerugian terhadap nasabah. Upaya yang dilakukan nasabah, harus mengecek buku rekeningnya dan jangan hanya sekali setahun saja dan harus jeli serta mengikuti petunjuk bank saat menarik uang melalui ATM. Polisi sudah gencar mengejar pelaku dan sudah ada yang mulai tertangkap dan diharapkan kasus tersebut bisa dijadikan acuan bagi perbankan dalam memproteksi yang lebih baik lagi bagi nasabah yang memegang kartu ATM. "Kita berharap, dana masyarakat yang hilang diganti, karena kan dana masyarakat diasuransikan atau ada lembaga yang menjamin. Jika tidak diganti tentu bisa mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap bank,"

Selasa, 29 Desember 2009

Ayo... Bertukar Pikir Denganku!!!

Cerita Tentang Penyensoran

Kisruh dalam dunia perfilman Indonesia akhir-akhir ini menyita perhatian publik. kisruh yang terjadi ditengah bangkitnya semaraknya film anak negeri menghiasi berbagai macam poster tontonan di bioskop yang selama ini di dominasi oleh film buatan Holywood dan Bolywood. Bagi mereka yang berada ditengah-tengah industri perfilman tentunya hal yang sangat penting, sesuatu yang harus diperjuangkan, sesuatu yang diyakini walupun akan berseberangan dengan yang diyakini oleh sebagian kelompok lain.

Dalam ranah budaya khususnya film bagaikan sebuah ruangan besar dan mewah, yang diributkan adalah persoalan layak atau tidak sebuah film disensor sedemikian rupa hingga dianggap tidak menghargai hasil cipta karya si pembuat film dan merugikan konsumen.

Pada awalnya sebuah film adalah sebuah cerita khayalan yang penuh imajinasi namun tak pernah terlepas dari realitas sosial yang ada. Sebuah film juga merupakan sebuah cerminan realita yang diangkat ke layar, disaksikan oleh banyak orang dengan tujuan hiburan alias entertaiment. Harapan akan sebuah hiburan yang mempertontonkan diri sendiri seakan sirna begitu sebuah lembaga yang diberi kuasa oleh negara untuk menggunting atau menghapus sebagian film karena dianggap akan merusak sebuah tatanan masyarakat yang telah mapan serta stabil.

Jikalau ditilik lebih dalam lagi seperti pertempuran antara kaum modren dengan kaum konsevatif, yang satu menginginkan sebuah kebebasan dalam berkarya, kelompok lain menginkan semuanya mesti berada dalam rel atau jalur yang telah ditentukan, kalau keluar jalur siap-siap aja di lempar. Bangsa ini masih membutuhkan waktu lagi untuk bisa menuju era modren karena budaya masyarakat yang beragam serta tingkat pendidikan penduduk yang begitu rendah sehingga belum siap menerima segala sesuatu dari luar. Belum bisa menentukan yang mana yang benar dan salah (padahal adalah tanggung jawab dan kewajiban negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa).